Ray.. kenapa kau memperhatikan aku, seakan
seorang peri kecil utusanmu menemaniku dan menjagaku. Setiap nasehat, dukungan,
dan arahan yang baik kau berikan kepadaku. Membuat ku ingin memiliki dirimu..
membuatku tak ingin kehilangan sedikit perhatian darimu.. namun kau tak punya
tujuan, dari apa yang kau berikan kepadaku. Aku merasa marah.. aku minta dia
menghentikan semuanya. Tapi dia tak bisa. Tapi dia selalu dan selalu
menghubungiku.. setiap kata-katanya yang manja, tak lagi ku dengarkan. Hingga
dia berani untuk memutuskannya untuk menyatakan hal yang aku mau. Dia membuatku
tersenyum. Marah ku hilang. Hari berganti hari terasa indah dan aku merasakan
ini rasanya jatuh cinta lagi. Rasanya senang bisa mengalihkan iwan teman yang
selalu ku kagumi di SMA ku. Rasanya senang bisa focus ke orang yang sudah aku
miliki. Namun setiap perjalanan pasti ada saja saat saat bertengkar,
ngambek-ngambekan, bahkan waktu itu dia pernah berkata kasar. Untuk yang
terakhir itu membuatku belajar untuk tidak terlalu peduli lagi kepadanya.. tapi
dia bilang tidak bisa tidak mendengar suaraku kalau aku sedang kesal padanya.
Membuatku tersenyum. Masa-masa satu bulan yang membuat hariku lebih baik. Lewat
dari satu bulan, sedikit demi sedikit masalah dia terbongkar.. perempuan lain
yang sedang break dengannya, pesan aneh yang mengancam aku dari pesan ray,
membuatku merasa tidak percaya dia bohongi aku..tapi aku tak berfikir lama.
Cukup sampai disini bermain perasaan, cukup sampai disini aku mengenal sosok
Ray. Yang ku inginkan terjadi lagi. Dia memutuskan hubungan ini. Untuk sesaat,
ini baik untuk ku. Aku tak terlibat lagi dengan mereka, dan aku sudah tak
banyak pikiran yang tak ku temui jawabnya.
Seminggu sebelum aku putus dengannya,
seseorang menghubungiku, orang yang pernah membuatku sayang padanya karna
waktunya yang sering disita untuk menemani diriku.. seseorang yang datang
sebelum Ray. dia Ruby. Orang yang takut bilang sayang kepadaku. Membuatku lelah
menunggu hingga handphone dia rusak, tidak ada kabar hingga aku kenal dengan
Ray. Ruby bertanya “by the way sudah punya pacar belum..” aku bingung mau jawab
apa dan aku rasa aku tak perlu bohong padanya.. aku tak pernah bohong padanya.
Aku jawab “sudah” entahlah dimana perasaanku padanya saat itu dan membuatku
teringat dia pernah sms “aku gnayas kamu” gnayas yang kalau dibalik adalah kata
“sayang”
Tiga hari setelah putus dengan Ray, Ruby
menghubungiku kembali dan menanyakan kabarku dangannya.. dan entah kenapa aku
menceritakan semuanya padanya. Seakan akan dia adalah sahabatku, tanpa ku ketahui
kalau dia sebenarnya tak ingin mendengar kisah itu. Satu hari, dua hari, dan
hari ketiga dia menelpon ku. Aku berbicara aneh aneh kepadanya.. dan (kau)
percaya??? Aku menerima cintanya.. awalnya biasa saja.. dengan alasan, “dulu
aku pernah sayang padanya, kenapa sekarang tidak bisa”. Tidak tau apa yang ada
difikiran ku sekarang ini. Tidak ada yang pasti, semuanya mengambang tak tentu
arah. Sampai rasa itu tumbuh lagi. Yap, aku bisa sayang lagi sama dia.. tapi
itu tidak lama, sayang sekali dia mengecewakan aku.. dia membuatku marah tanpa
dia ketahui apa yang dia telah lakukan. Aku mulai menentukan arah ku.. ingin
focus ke UJIAN SEKOLAH adalah alasannya.. sebab aku tak bisa konsen jika dia
terus membayang-bayangi langkah ku. Aku putus dengannya. Tanpa ada perasaan
senang, atau sedih, atau datar.. setelah itu aku benar-benar focus ke sekolah
ku dan aku lulus.
Malam minggu yang sepi seperti malam-malam
sebelumnya. Aku tak percaya Ruby mengajakku jalan-jalan untuk menemaninya.. dan
dia membuatku menjelajahi kenangan bersamanya.. hari-hariku begitu rumit tanpa
ada cinta.. dari siapapun,. Sekarang semua teman-temanku sibuk.. sahabatku
pergi keluar kota. Dan aku benar-benar kesepian.. sampai aku diterima bekerja
dan aku mulai sibuk seperti mereka..
Aku ingin jumpa ruby malam ini. Rasanya aku
sangat sepi tanpa teman. Namun dia sedang tidak dirumah, tapi dia akan
menjemputku setelah itu. Aku setuju. Dalam perjalanan, kita berbicara banyak.
Setiap kegiatan kita, dan apapun yang bisa membuat kita tertawa bersama.. lalu dia berkata
“boleh aku genggam tanganmu” dia menggenggamnya.. seperti tak ingin dilepasnya
lagi. Dan dia berkata “kenapa diam?” seperti biasa, aku malah mengalihkan
pertanyaan “kamu dong ajak aku ngomong” intinya aku tak menjawab pertanyaannya.
Dalam hatiku terdapat getaran, aku tidak mengerti.. dimotor ia menarik
tanganku, aku tak ingin memeluknya. Aku tak tau apa getaran ini. ((mungkin
peka)??) kepalaku bersandar di pundaknya, hingga sampai rumahku. Dan ia pulang
untuk istirahat. Karna besok pagi kita mempunyai aktifitas lagi. Sebelum ku
terlelap dalam malam, ku sempatkan kirim-kiriman pesan dengannya. dan inginkan
malam seterusnya seperti ini.. tidak sepi, dan tenang disampingnya.
Aku semakin merasa aneh,
aku merasa tak mau hilang dari dirinya. Tapi sewaku waktu ia bertanya padaku,
“apa kamu masih sayang sama aku” aku tak pernah menjawabnya. Dan malah aku
bertanya balik. “emang kalau enggak kenapa, kalau masih kenapa?” dia bilang “ya
kalau masih, aku akan memperjuangkan perasaan aku, tapi kalau engga ya kita
bisa sahabatan” Aku menyadari bagaimana egoisnya aku.. hanya memikirkan diriku
sendiri. Sampai di hari ulang tahunnya pun dia ingin aku menjawabnya, aku belum
bisa menjawabnya. Aku sadar aku menggantungkannya. Tidak membiarkan dia jalan
ke tempat lain. Jujur aku melakukan itu
karna aku tak mau kehilangan dia, dia yang bisa mengerti sikap ku, sekalipun
saat aku egois. Dan aku pun tidak tau apa aku masih sayang atau tidak sama
dia.. karna kalau ditanya apa aku sayang padanya, jika aku jawab “ya” tapi aku
tidak merasa sayang itu hadir. Jika aku jawab “tidak” tapi hatiku tak bisa
mengatakan itu, aku pun tak mengerti!!
Dua bulan telah terlewati dengan jarangnya aku
dan dia berkomunikasi. Perasaan ku yang lelah mengantarku untuk bersandar pada
ruby. Aku beranjak menghubunginya. Ngobrol, dan ngobrol.. dan dia bertanya
lagi. Okeh, aku gak mungkin seperti ini terus menerus. Aku putuskan untuk
menjawab pertanyaannya “ruby aku minta
maaf, karna aku telah egois sama kamu. rasa sayang itu sebenarnya sudah lama
hilang.. apa tawaran kamu jadi sahabat masih berlaku? kalau kamu inginkan
huhungan kita lebih lanjut, aku gak bisa.. tapi aku gak mau kehilangan kamu.
Aku minta maaf” dia membalas pesanku “kamu jangan ngomong gitu, tawaran aku
untuk bersahabat masih ada ko. Sekarang aku juga sudah punya kekasih.”
Lagi serius-seriusnya
aku, dan berat sekali mengatakan itu, dia dengan polosnya jawab kaya gitu
cobaa. Satu hari aku tak konsen kerja, berantakan, dapat seruan 10 kali juga.
Malamnya aku chattingan sama temanku yang pernah satu tempat kerja dengan ruby.
Aku tau ruby sudah tidak disana. Dan info yang aku dapat adalah “ruby resign
karna diputusin sama ayu” hanya itu saja. Kebesokannya aku bertanya sama ruby,
kenapa berenti kerja (karna yang aku tau ruby berenti karna sakit, atau gak
kuat kerja disana) dia bilang ada masalah sama temennya yang telah
mengecewakannya. Yahh, panjanglah ceritanya sampai yang ku tau dia punya pacar
namanya “chizie” aku jadi semakin rumit. Aku minta ketemu. Aku pergi sama dia
ketempat temenku yang bagaimana berita awalnya aku bisa kenal sama ruby. Disana
sikapku di amati sama dia. Dan aku salah, dia benar seharusnya aku tidak boleh
bersikap seperti itu. Aku bukan siapa-siapa laginya ruby. Aku merasa baru
terbangun dari lamanya aku tertidur. Di perjalanan pulang. Aku meluruskan
semuanya.. kita mengulang kata-kata kita mulai dari perbincangan saat setelah
putus, sampai sekarang. Aku sudah bangun. Aku sudah sadar. Dia bisa semangat
lagi, aku bisa menerima keadaan. Kita bersahabat. Tanpa rasa bergantungan. Sekarang
aku bisa jadi temannya. Itulah yang aku butuhkan.. seorang teman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar