Sabtu, 23 Juni 2012

bubby quh



Ray.. kenapa kau memperhatikan aku, seakan seorang peri kecil utusanmu menemaniku dan menjagaku. Setiap nasehat, dukungan, dan arahan yang baik kau berikan kepadaku. Membuat ku ingin memiliki dirimu.. membuatku tak ingin kehilangan sedikit perhatian darimu.. namun kau tak punya tujuan, dari apa yang kau berikan kepadaku. Aku merasa marah.. aku minta dia menghentikan semuanya. Tapi dia tak bisa. Tapi dia selalu dan selalu menghubungiku.. setiap kata-katanya yang manja, tak lagi ku dengarkan. Hingga dia berani untuk memutuskannya untuk menyatakan hal yang aku mau. Dia membuatku tersenyum. Marah ku hilang. Hari berganti hari terasa indah dan aku merasakan ini rasanya jatuh cinta lagi. Rasanya senang bisa mengalihkan iwan teman yang selalu ku kagumi di SMA ku. Rasanya senang bisa focus ke orang yang sudah aku miliki. Namun setiap perjalanan pasti ada saja saat saat bertengkar, ngambek-ngambekan, bahkan waktu itu dia pernah berkata kasar. Untuk yang terakhir itu membuatku belajar untuk tidak terlalu peduli lagi kepadanya.. tapi dia bilang tidak bisa tidak mendengar suaraku kalau aku sedang kesal padanya. Membuatku tersenyum. Masa-masa satu bulan yang membuat hariku lebih baik. Lewat dari satu bulan, sedikit demi sedikit masalah dia terbongkar.. perempuan lain yang sedang break dengannya, pesan aneh yang mengancam aku dari pesan ray, membuatku merasa tidak percaya dia bohongi aku..tapi aku tak berfikir lama. Cukup sampai disini bermain perasaan, cukup sampai disini aku mengenal sosok Ray. Yang ku inginkan terjadi lagi. Dia memutuskan hubungan ini. Untuk sesaat, ini baik untuk ku. Aku tak terlibat lagi dengan mereka, dan aku sudah tak banyak pikiran yang tak ku temui jawabnya.

Seminggu sebelum aku putus dengannya, seseorang menghubungiku, orang yang pernah membuatku sayang padanya karna waktunya yang sering disita untuk menemani diriku.. seseorang yang datang sebelum Ray. dia Ruby. Orang yang takut bilang sayang kepadaku. Membuatku lelah menunggu hingga handphone dia rusak, tidak ada kabar hingga aku kenal dengan Ray. Ruby bertanya “by the way sudah punya pacar belum..” aku bingung mau jawab apa dan aku rasa aku tak perlu bohong padanya.. aku tak pernah bohong padanya. Aku jawab “sudah” entahlah dimana perasaanku padanya saat itu dan membuatku teringat dia pernah sms “aku gnayas kamu” gnayas yang kalau dibalik adalah kata “sayang”

Tiga hari setelah putus dengan Ray, Ruby menghubungiku kembali dan menanyakan kabarku dangannya.. dan entah kenapa aku menceritakan semuanya padanya. Seakan akan dia adalah sahabatku, tanpa ku ketahui kalau dia sebenarnya tak ingin mendengar kisah itu. Satu hari, dua hari, dan hari ketiga dia menelpon ku. Aku berbicara aneh aneh kepadanya.. dan (kau) percaya??? Aku menerima cintanya.. awalnya biasa saja.. dengan alasan, “dulu aku pernah sayang padanya, kenapa sekarang tidak bisa”. Tidak tau apa yang ada difikiran ku sekarang ini. Tidak ada yang pasti, semuanya mengambang tak tentu arah. Sampai rasa itu tumbuh lagi. Yap, aku bisa sayang lagi sama dia.. tapi itu tidak lama, sayang sekali dia mengecewakan aku.. dia membuatku marah tanpa dia ketahui apa yang dia telah lakukan. Aku mulai menentukan arah ku.. ingin focus ke UJIAN SEKOLAH adalah alasannya.. sebab aku tak bisa konsen jika dia terus membayang-bayangi langkah ku. Aku putus dengannya. Tanpa ada perasaan senang, atau sedih, atau datar.. setelah itu aku benar-benar focus ke sekolah ku dan aku lulus.

Malam minggu yang sepi seperti malam-malam sebelumnya. Aku tak percaya Ruby mengajakku jalan-jalan untuk menemaninya.. dan dia membuatku menjelajahi kenangan bersamanya.. hari-hariku begitu rumit tanpa ada cinta.. dari siapapun,. Sekarang semua teman-temanku sibuk.. sahabatku pergi keluar kota. Dan aku benar-benar kesepian.. sampai aku diterima bekerja dan aku mulai sibuk seperti mereka..
Aku ingin jumpa ruby malam ini. Rasanya aku sangat sepi tanpa teman. Namun dia sedang tidak dirumah, tapi dia akan menjemputku setelah itu. Aku setuju. Dalam perjalanan, kita berbicara banyak. Setiap kegiatan kita, dan apapun yang bisa membuat kita tertawa bersama.. lalu dia berkata “boleh aku genggam tanganmu” dia menggenggamnya.. seperti tak ingin dilepasnya lagi. Dan dia berkata “kenapa diam?” seperti biasa, aku malah mengalihkan pertanyaan “kamu dong ajak aku ngomong” intinya aku tak menjawab pertanyaannya. Dalam hatiku terdapat getaran, aku tidak mengerti.. dimotor ia menarik tanganku, aku tak ingin memeluknya. Aku tak tau apa getaran ini. ((mungkin peka)??) kepalaku bersandar di pundaknya, hingga sampai rumahku. Dan ia pulang untuk istirahat. Karna besok pagi kita mempunyai aktifitas lagi. Sebelum ku terlelap dalam malam, ku sempatkan kirim-kiriman pesan dengannya. dan inginkan malam seterusnya seperti ini.. tidak sepi, dan tenang disampingnya.

Aku semakin merasa aneh, aku merasa tak mau hilang dari dirinya. Tapi sewaku waktu ia bertanya padaku, “apa kamu masih sayang sama aku” aku tak pernah menjawabnya. Dan malah aku bertanya balik. “emang kalau enggak kenapa, kalau masih kenapa?” dia bilang “ya kalau masih, aku akan memperjuangkan perasaan aku, tapi kalau engga ya kita bisa sahabatan” Aku menyadari bagaimana egoisnya aku.. hanya memikirkan diriku sendiri. Sampai di hari ulang tahunnya pun dia ingin aku menjawabnya, aku belum bisa menjawabnya. Aku sadar aku menggantungkannya. Tidak membiarkan dia jalan ke tempat lain. Jujur aku melakukan  itu karna aku tak mau kehilangan dia, dia yang bisa mengerti sikap ku, sekalipun saat aku egois. Dan aku pun tidak tau apa aku masih sayang atau tidak sama dia.. karna kalau ditanya apa aku sayang padanya, jika aku jawab “ya” tapi aku tidak merasa sayang itu hadir. Jika aku jawab “tidak” tapi hatiku tak bisa mengatakan itu, aku pun tak mengerti!!

 Dua bulan telah terlewati dengan jarangnya aku dan dia berkomunikasi. Perasaan ku yang lelah mengantarku untuk bersandar pada ruby. Aku beranjak menghubunginya. Ngobrol, dan ngobrol.. dan dia bertanya lagi. Okeh, aku gak mungkin seperti ini terus menerus. Aku putuskan untuk menjawab pertanyaannya  “ruby aku minta maaf, karna aku telah egois sama kamu. rasa sayang itu sebenarnya sudah lama hilang.. apa tawaran kamu jadi sahabat masih berlaku? kalau kamu inginkan huhungan kita lebih lanjut, aku gak bisa.. tapi aku gak mau kehilangan kamu. Aku minta maaf” dia membalas pesanku “kamu jangan ngomong gitu, tawaran aku untuk bersahabat masih ada ko. Sekarang aku juga sudah punya kekasih.”

Lagi serius-seriusnya aku, dan berat sekali mengatakan itu, dia dengan polosnya jawab kaya gitu cobaa. Satu hari aku tak konsen kerja, berantakan, dapat seruan 10 kali juga. Malamnya aku chattingan sama temanku yang pernah satu tempat kerja dengan ruby. Aku tau ruby sudah tidak disana. Dan info yang aku dapat adalah “ruby resign karna diputusin sama ayu” hanya itu saja. Kebesokannya aku bertanya sama ruby, kenapa berenti kerja (karna yang aku tau ruby berenti karna sakit, atau gak kuat kerja disana) dia bilang ada masalah sama temennya yang telah mengecewakannya. Yahh, panjanglah ceritanya sampai yang ku tau dia punya pacar namanya “chizie” aku jadi semakin rumit. Aku minta ketemu. Aku pergi sama dia ketempat temenku yang bagaimana berita awalnya aku bisa kenal sama ruby. Disana sikapku di amati sama dia. Dan aku salah, dia benar seharusnya aku tidak boleh bersikap seperti itu. Aku bukan siapa-siapa laginya ruby. Aku merasa baru terbangun dari lamanya aku tertidur. Di perjalanan pulang. Aku meluruskan semuanya.. kita mengulang kata-kata kita mulai dari perbincangan saat setelah putus, sampai sekarang. Aku sudah bangun. Aku sudah sadar. Dia bisa semangat lagi, aku bisa menerima keadaan. Kita bersahabat. Tanpa rasa bergantungan. Sekarang aku bisa jadi temannya. Itulah yang aku butuhkan.. seorang teman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar