“Mama kan mau kasih dia gantungan
kunci, oleh-oleh dari kakak mu kemarin”
Aku kaget tapi datar “mau kasih dia?”
“iya..
tapi mama gak enak sama yang lain.. soalnya mama Cuma kasihnya ke dia aja..”
Hemm?? “emangnya kenapa mau kasih ke dia??”
“yaa mau
kasih aja.. kan dia sudah baik sama kamu”
Ho? Em.. ko sampe nyokap gue yang bilang kayak gitu?? “ya
kalo gitu kenapa gak kasih baju Singapore ini aja sekalian” dengan sok datar
gue keceplosan..
“baju? Em…”
mama mempertimbangkan… “apa.. kasihnya pas perpisahan aja ya ??”
Hah!!!! “emang kita jadi pindah??!!”
Mengingat pembicaraan malam itu membuyarkan lamunan gue..dan
sepertinya memang sudah saatnya gue harus bisa membiasakan diri jika nantinya
gue benar akan pergi. Entahlah.. pindah ke tempat baru.. lingkungan baru, udara
baru dan pengelihatan yang baru adalah yang paling aku inginkan di 1 tahun yang
lalu.. tapi kini aku tak ingin beranjak. Walau harus, dan akan tetap beranjak. Aku
tidak terpaksa.. hanya menghembuskan nafas dan merelakan..merelakan hati ku
tertinggal..
Tak apa.. ini hanya aku yang merasakan.. kalau teman.. siapa
saja bisa jadi teman. Tapi kekasih hati, mungkin agak berbeda. Tapi tenang saja
.. aku bilang ini hanya aku yang merasakan. Karna dia tak pernah sedikitpun
mencoba ungkapkan sesuatu.. mungkin karna ini hanya aku yang merasakan. Makanya
aku tenang… tak ada yang akan merasa lebih kehilangan dibandingkan hati ku.. aku
sudah biasa..
Tak ada yang perlu aku takutkan…
Yaa… semua akan berjalan seperti air yang terus mengalir…
Hati ku tetap tertinggal..
Sampai aku terbiasa dan mengembalikan bentuk utuh seperti
sebelum aku mengenalnya..
