Aku tidak bisa tidur lagi. Banyak sekali yang aku fikirkan. Aku benar benar membangunkan diriku dengan otak ku yang terus berputar. Aku dilema dengan perasaanku sendiri. Aku bertanya tanya kenapa. Tapi aku tidak temukan jawaban. Dan aku mulai berbicara sendiri, mengunkapkan yang sebenarnya aku rasakan. Itu bisa membuatku tenang karena aku berkata jujur yang sejujur-jujurnya akan perasaanku kalau yang aku benar-benar inginkan adalah kebahagiaan ku dan keluargaku. Ya. Kebahagiaan keluarga ini. Tak ada lagi yang tersakiti dalam bentuk apapun dan tak akan pernah menyakiti perasaan siapapun. Walau aku tau itu bisa saja terjadi karena ketidak sengajaan. Maka dari itu aku ingin kebahagiaan agar tak ada rasa malu untuk mengungkapkan kata maaf. Tak pernah malu untuk mengaku kesalahan dan tetap ada keinginan untuk berubah menjadi yang seharusnya ada di bayang-bayang dalam senyuman.
Yang aku lakukan adalah atas pikiranku. Yang mereka ketahui tentang diriku adalah pikiran atas mereka. Dan apa yang mereka fikirkan tentang aku belum tentu persis seperti apa tujuan dari tindakanku.
Aku cuma ingin menjadi aku yang akan lebih dari mereka. Seperti mereka yang selalu ingin menjadi yang terbaik untuk semuanya.
Hidupku begitu rumit, sampai aku ingin membantu setiap orang yang mengalami masalah yang rumit juga. Sebab aku tak ingin mereka sendirian, tak ingin mereka tidak bisa tidur dalam malam dan hanya bisa bertanya-tanya. Padahal akupun begitu. Sampai-sampai aku merasa seperti orang yang terasing, karena ingin berusaha mengambil simpati dari mereka. Terlebih aku lupa, kalau aku juga punya masalah. Dan apa salah aku ingin menolong dan berbagi? Atas modal ketulusan, kejujuran dan penyimpan rahasia, aku merasa bisa berguna untuk orang lain.
Aku merasa aneh.. Sampai ada yang bilang aku ini unik. Dan yang bilang itu orang yang tidak pernah melihatku. Dia hanya mengenal dan mengetahui diriku lewat pesan singkat. Aku merasa inilah aku. Tak peduli mereka beranggapan apa. Karena dari sana, aku bisa melihat mana orang yang bisa menerimaku apa adanya dan mana orang yang bisa datang dan pergi sesuai keperluannya saja.
Haruskah aku menceritakan kisah hidupku?
Aku ingin mengungkapkannya karena menulis dapat membuatku tenang.
Sudah beberapa hari ini, aku diam-diaman dengan adikku. Sedih sekali. Hatiku terasa lebih sakit dari hatinya. Karena kesalah pahaman yang berawal dari perkataanku. Dan aku tak sadar kalau itu menyakiti hatinya. Aku tidak dapat tidur dan terjaga sampai aku lelah menahan diri untuk tidak menangis lagi. Tadinya aku menyangka ini tidak lama, namun aku tersadar kalau kami sudah besar dan kami bisa berfikir ini dan itu. Tidak lagi anak kecil yang sering bertengkar lalu bermain bersama lagi tanpa kata maaf. Ya. Sekarang kami sudah besar. Lalu sekitar beberapa hari aku berdiam diri, ingin berfikir sendiri dan kuharap dia juga begitu. Dalam malam ku terbangun dia tidak tau apa yang kulakukan untuknya.. Atau aku yang tidak tau kalau dia tersadar. Entahlah. Tapi aku senang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar