Minggu, 28 April 2013

Melepaskan Merpati



Sakit yang tak ku mengerti. Hanya satu nama yang terlintas selalu dalam hatiku. Hanya nama dia yang ingin aku hubungi. Yang mungkin bisa meredam segala amarahku dan emosiku yang menyakiti hati. Tapi siapa dia, dia bukan siapa-siapa. Walau setiap kali ku menulis hanya tentang nya, hanya tentang perasaan ku yang aku buat sendiri. Indah yang membuatku jerjerat dalam buaian ku sendiri. Yang aku rasa dia tempat ku bersandar. aku menghubunginya. Mendengar suaranya, dan mengambil kesimpulan kalau dia sepertinya sedang sibuk. Aku menutup telepon dan menarik nafas panjang. Memejamkan mata dan berusaha seperti tak terjadi apa-apa. Tapi tak bisa, sampai ku putuskan untuk memberinya pesan “hatiku rasakan sakit yang aku tak mengerti, aku ingin cerita namun tak bisa bicara, nggak ingin mengganggu juga” lalu dia putuskan untuk jumpa. Hati ku semakin dalam. Kenapa kau setuju untuk menemuiku. Kenapa kau membuat aku semakin berperasaan.
Aku melihat wajahku di cermin. Jauh kedalam tatapan ku sendiri. Berbanding terbalik dari tangis ke ceria. Aku tau dia datang. Berada didekatnya ke tempat biasa kita kunjungi. Aku duduk disampingnya, dalam gelapnya pejaman mataku, aku bersandar dalam sunyi, hening, dam bernafas yang tak biasa. Merekam dalam ingatanku akan rasa ini, untuk ku ingat kembali saat dia sudah tak disisi. Aku tau perasaan macam apa ini. Sedikit demi sedikit aku membuka pembicaraan. Semua yang ingin aku katakan, semua yang membuat hati ku sakit saat ku bayangkan akan kepergian. Semuanya yang harus aku ungkapkan agar tak akan pernah ada penyesalan. Aku tak ingin pulang.
Bermain bersamanya, tersenyum disampingnya, aku rasakan aneh, namun nyata dan mengundang bahagia. Dan saat ku tau yang ingin ku ketahui, aku merasa senang, tak ingin hilang, dan abadi dalam fikiran. Itu semua cukup. Menghapuskan segala kegelisahan ku, mengubah duka menjadi ceria, ngengetahui cinta tak hanya pada diriku sendiri. Terimakasih. Hati ku cukup terobati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar