Sakit yang tak ku mengerti. Hanya satu nama yang
terlintas selalu dalam hatiku. Hanya nama dia yang ingin aku hubungi. Yang mungkin
bisa meredam segala amarahku dan emosiku yang menyakiti hati. Tapi siapa dia,
dia bukan siapa-siapa. Walau setiap kali ku menulis hanya tentang nya, hanya tentang
perasaan ku yang aku buat sendiri. Indah yang membuatku jerjerat dalam buaian
ku sendiri. Yang aku rasa dia tempat ku bersandar. aku menghubunginya. Mendengar
suaranya, dan mengambil kesimpulan kalau dia sepertinya sedang sibuk. Aku menutup
telepon dan menarik nafas panjang. Memejamkan mata dan berusaha seperti tak
terjadi apa-apa. Tapi tak bisa, sampai ku putuskan untuk memberinya pesan “hatiku
rasakan sakit yang aku tak mengerti, aku ingin cerita namun tak bisa bicara, nggak
ingin mengganggu juga” lalu dia putuskan untuk jumpa. Hati ku semakin dalam. Kenapa
kau setuju untuk menemuiku. Kenapa kau membuat aku semakin berperasaan.
Aku melihat wajahku di cermin. Jauh kedalam tatapan ku
sendiri. Berbanding terbalik dari tangis ke ceria. Aku tau dia datang. Berada didekatnya
ke tempat biasa kita kunjungi. Aku duduk disampingnya, dalam gelapnya pejaman
mataku, aku bersandar dalam sunyi, hening, dam bernafas yang tak biasa. Merekam
dalam ingatanku akan rasa ini, untuk ku ingat kembali saat dia sudah tak
disisi. Aku tau perasaan macam apa ini. Sedikit demi sedikit aku membuka
pembicaraan. Semua yang ingin aku katakan, semua yang membuat hati ku sakit
saat ku bayangkan akan kepergian. Semuanya yang harus aku ungkapkan agar tak
akan pernah ada penyesalan. Aku tak ingin pulang.
Bermain bersamanya, tersenyum disampingnya, aku rasakan
aneh, namun nyata dan mengundang bahagia. Dan saat ku tau yang ingin ku
ketahui, aku merasa senang, tak ingin hilang, dan abadi dalam fikiran. Itu semua
cukup. Menghapuskan segala kegelisahan ku, mengubah duka menjadi ceria,
ngengetahui cinta tak hanya pada diriku sendiri. Terimakasih. Hati ku cukup
terobati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar