Gue sebenernya gak pernah buka hati gue setelah dia.
Sampai gue bertemu lo juga gue ya biasa aja diri gue yang sepi. Menikmati
kesendirian yang selalu terjadi. Waktu gue ditanya kira-gue bakal suka gak sama
lo juga kan gue jawab “engga”. Keseharian dengan canda gue dan canda lo juga
kadang jadi sebuah puisi yang unik yang bisa gue posting. Bukan semata-mata apa
yang gue benar-benar rasain. Merangkai kata-kata adalah hobi gue. Jangankan
kisah canda, dengan nonton film cinta pun kalo gue pengen bisa gue
jadiin sepuluh puisi. Kisah lo sama mantan lo juga gue bisa puisiin.
Dan lo tau itu.
Dan disaat gue sedang tidak semangat hidup di dunia ini,
ada masalah yang sangat mengganggu hati gue, lo biarin gue nyaman bersandar di
bahu lo. Tadinya gue kira itu biasa aja. Itu keadaan darurat yang gak bisa gue
hindarin karna gue harus nyaman dibanding terjadi kecelakaan. Dan gue emang
butuh untuk bersandar. Gue menikmati itu, rasa nyaman yang bisa buat hati gue
tenang.
Dan setelah itu dan setelah ini itu... dengan perbedaan
sikap lo yang jauh beda dengan mendadaknya, menggetarkan hati gue.. menjadi
rasa sakit yang aneh. Memaksa gue terus merasakan sebuah getaran dari sikap lo
setelah kejadian itu.. dan lo tau, rasa sakit itu hilang saat gue membuka pintu
hati gue.. saat nama lo selalu gue sebut dalan keseharian gue. Rasa sakit itu
alasan gue mengakui kalau lo buat gue jadi jatuh cinta.. rasa sakit berubah
menjadi indah.
Dan setelah itu, gue belajar untuk selalu jujur kepada
diri gue sendiri. Setiap hari, sampai satu minggu ketemu minggu lagi. Gue gak
temukan yang gue cari di dalam diri lo. Membuat gue menahan rasa indah yang
harusnya terus mengalir. Tapi kau berhasil menyumbatnya. Aku berkeputusan untuk
meninggalkan rasa itu, rasa sayang yang telah kau buat aku menjadi indah.
Lalu kau tanya aku mengenai perasaan.
Maaf, aku takut untuk kecewa karena cinta yang tak
sejalan.
Aku akan kembali satu. Tanpa kamu, kecuali kau kenal
diriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar