Selera yang sama dengan sahabat. Namanya juga sahabat, udah pasti sehati. Tapi...... kalo urusan gebetan.. apa lagi yang digebet orang
yang sama, gimana ya kedepannya kisah persahabatan itu. Apa ada akhir?
Dimulai dari menyembunyikan perasaan, lalu mengalihkan
pembicaraan, dan timbul kebohongan dalam keterpaksaan. Untuk satu alasan yaitu
tak ingin menyakiti perasaan.
Intinya yah,, kalau memang sudah sabatan, apa lagi sehati. Kenapa
harus tidak ada lagi kejujuran. Terkadang rasa takut menyakiti itu selalu
menang. Sehingga tidak tersadarkan kalau akhirnya mengecewakan itu lebih
tersakiti. Mengapa harus berbohong? Jika cepat ataupun lambat sudah diketahui
akan ketahuan, pasti itu akan sangat mengecewakan.
Tidak dapat dipungkiri memang ego itu bertindak semaunya
sendiri. Memang sebelmnya difikirkan dulu, tapi kalau banyak mikir pasti akan
dilema. Dilema itu menyusahkan. Tidak ada jawaban. Bayangkan, apa yang
terpenting antara jujur dan berbohong? Ada yang menjawab :
- Demi kebaikan aku berbohong saja. Apa “bohong” itu baik? Tidak.
- Aku harus jujur, tapi....... “tapi apa, apa “jujur” itu hal yang buruk?” pikirkan
Hal terindah dalam hidup ini adalah kejujuran. Memang, jujur
dalam hal yang tidak diinginkan memang menyakitkan, membuat kecewa.. tapi coba
deh bayangkan ketika satu kebohongan membuat kebahagiaan dan ketika kebohongan
itu terungkapkan “apa arti sebuah kebahagiaan dalam kebohongan” itu akan lebih
mengecewakan.
Tersenyumlah kau yang memiliki sahabat yang sehati, karna
kejujuranmu sangatlah berarti.
Bahagialah kau yang memiliki dia saat ini, bayangkan kau
selalu didekatnya setiap hari.
Perpisahan takan pernah ada selama tak ada ucapan selamat
tinggal.
Perasaan yang sensitif, akan menguji cara pandanganmu akan sebuah persahabatan.
Jadi tetaplah menjadi dirimu sendiri, jangan salah dalam
berfikir. Tidak boleh egois yang selalu menang dalam diri. Tapi cobalah untuk
mengerti, memahami, dan menerima setulus hati.
Agar senyum mu utuh seindah bahagia hati mu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar